Aston Martin sedang bersiap untuk mengurangi tenaga kerja globalnya hingga 20% ketika produsen mobil mewah tersebut bergulat dengan kerugian finansial yang signifikan. Perusahaan melaporkan kerugian £493 juta (A$934 juta) pada tahun 2025, menandai berlanjutnya ketidakstabilan keuangan selama bertahun-tahun. Langkah ini merupakan respons langsung terhadap tantangan makroekonomi yang sedang berlangsung dan meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya di pasar-pasar utama seperti Amerika Serikat dan Tiongkok.
Perjuangan Finansial yang Berkepanjangan
Kekalahan Aston Martin bukanlah fenomena baru. Perusahaan ini telah melaporkan laba bersih negatif setidaknya sejak tahun 2019, mengumpulkan dana sebesar £2,29 miliar (A$4,3 miliar) dalam bentuk tinta merah selama enam tahun terakhir. Pola ini menunjukkan adanya permasalahan struktural di luar kondisi perekonomian jangka pendek. Kerugian yang terus berlanjut menimbulkan pertanyaan tentang kelangsungan hidup perusahaan dalam jangka panjang tanpa restrukturisasi besar atau investasi eksternal.
Pengurangan Tenaga Kerja dan Pemotongan Pengeluaran
Untuk mengatasi krisis keuangan, Aston Martin akan memangkas tenaga kerjanya hingga 20%, yang bertujuan untuk mengurangi pengeluaran tahunan sebesar £40 juta (A$76 juta). Pemotongan ini diharapkan berdampak pada semua divisi dan akan diterapkan sepanjang tahun. Perusahaan saat ini mempekerjakan sekitar 3.000 orang, terutama di Inggris, di seluruh fasilitasnya di Gaydon, Newport Pagnell, dan St Athan di Wales. Pengurangan staf adalah hal yang umum namun sering kali merupakan langkah menyakitkan yang diambil oleh perusahaan yang berada di bawah tekanan untuk meningkatkan profitabilitas.
Investasi EV Tertunda
Menanggapi ketidakpastian ekonomi dan perubahan peraturan, Aston Martin juga mengurangi rencana investasi kendaraan listrik (EV). Perusahaan telah menunda pengembangan kendaraan listrik, mengurangi rencana belanja modal lima tahun sebesar £300 juta menjadi £1,7 miliar. Keputusan ini menunjukkan perubahan strategi, dengan memprioritaskan penghematan biaya jangka pendek dibandingkan tujuan elektrifikasi jangka panjang. Namun, kelangsungan jangka panjang produsen mobil mewah untuk menghindari elektrifikasi masih dipertanyakan mengingat perubahan preferensi konsumen dan peraturan lingkungan.
Penurunan Penjualan dan Kinerja Regional
Volume grosir kendaraan Aston Martin turun 9,7% pada tahun 2025, berjumlah 5.448 unit. SUV DBX mengalami penurunan sebesar 9%, sedangkan mobil sport dan GT turun sebesar 10%. Segmen kendaraan khusus dengan margin tinggi juga mengalami penurunan volume sebesar 17%. Amerika Utara tetap menjadi pasar terkuat, namun penjualan di sana masih turun 3,1%. Kawasan Eropa dan Asia Pasifik mencatat penurunan yang lebih signifikan masing-masing sebesar 12,0% dan 20,6%. Kinerja regional yang bervariasi menggarisbawahi perlunya strategi pemasaran dan penjualan yang ditargetkan untuk mengatasi tantangan pasar tertentu.
Pandangan Masa Depan
CEO Aston Martin Adrian Hallmark tetap optimis, memperkirakan “peningkatan signifikan dalam kinerja keuangan” pada tahun 2026. Namun, profitabilitas nyata dan arus kas bebas positif masih jauh dari tujuan. Perusahaan tersebut membantah laporan baru-baru ini tentang upaya peningkatan investasi dari pemegang sahamnya di Arab Saudi untuk kemungkinan delisting dari Bursa Efek London.
Masa depan Aston Martin bergantung pada kemampuannya untuk melakukan langkah-langkah penghematan biaya yang efektif, menavigasi tantangan geopolitik, dan beradaptasi dengan lanskap otomotif yang terus berkembang. Jalan menuju profitabilitas kemungkinan akan panjang dan tidak pasti, sehingga memerlukan perubahan strategis dan potensi restrukturisasi lebih lanjut.
