Mercedes-Benz telah meluncurkan model hybrid baru, CLA 220, yang mengandalkan mesin yang dikembangkan dan diproduksi bersama di China. Hal ini menandai pergeseran sumber daya bagi produsen mobil asal Jerman tersebut, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai rantai pasokan, efisiensi, dan masa depan produksi otomotif.
Under the Hood: Kolaborasi Tiongkok-Jerman ⚙️
CLA 220 dilengkapi mesin empat silinder 1,5 liter turbocharged dengan rasio kompresi tinggi 12:1. Meskipun Mercedes mengklaim kredit pengembangan, mesin tersebut merupakan hasil kerja sama dengan Geely, yang seluruhnya dibuat di China sebelum diintegrasikan ke dalam kendaraan Mercedes. Ini bukan hanya kolaborasi desain; seluruh proses produksi berlangsung di China, kemudian komponen dikirim ke Mercedes untuk perakitan akhir.
Mesinnya menggunakan teknologi canggih seperti proses pembakaran siklus Miller, bak mesin yang seluruhnya terbuat dari aluminium, dan pelapis silinder Nanoslide untuk memaksimalkan efisiensi dan daya tahan. Mercedes juga menambahkan insulasi suara ekstra untuk meredam kebisingan, memastikan pengalaman berkendara premium meski menggunakan mesin asing.
Performa Hibrida: Tenaga dan Efisiensi ⚡
Mesin 1,5 liternya dipadukan dengan motor listrik yang terintegrasi dalam transmisi kopling ganda delapan percepatan, ditenagai baterai lithium-ion 1,3 kWh 48 volt. Sistem hybrid memungkinkan pengendaraan listrik saja pada kecepatan hingga 60 mph (96 km/jam) dan pemulihan energi selama pengereman.
CLA 220 menghasilkan tenaga 208 hp dan torsi 280 lb-ft, mencapai 0-60 mph dalam 7,1 detik dengan kecepatan tertinggi 130 mph (209 km/jam). Kendaraan ini memiliki berat sekitar 3.594 lbs (1.630 kg).
Pembaruan Interior: Penyempurnaan Halus 🛋️
Di dalam, CLA 220 hadir standar dengan atap kaca panoramik. Peningkatan opsional termasuk Superscreen Mercedes-Benz, yang menampilkan layar 10,25 inci, layar infotainment 14 inci, dan layar penumpang depan 14 inci.
Lebih khusus lagi, roda kemudi telah diperbarui dengan kontrol fisik untuk kontrol jelajah dan volume, menggantikan tombol sensitif sentuhan. Perubahan ini menanggapi umpan balik konsumen mengenai kegunaan.
Gambaran Lebih Besar: Rantai Pasokan Global 🌍
Keputusan Mercedes untuk menggunakan mesin buatan Tiongkok menyoroti meningkatnya ketergantungan pada rantai pasokan global di industri otomotif. Meskipun penghematan biaya dan peningkatan efisiensi sudah terlihat jelas, langkah ini menimbulkan pertanyaan mengenai pengendalian kualitas, risiko geopolitik, dan masa depan manufaktur.
Peralihan ke mesin Tiongkok mewakili langkah pragmatis namun berpotensi kontroversial bagi Mercedes-Benz, yang memadukan teknologi Jerman dengan manufaktur yang hemat biaya.
Strategi ini bisa menjadi lebih luas karena para pembuat mobil berupaya untuk menyederhanakan produksi dan mengurangi biaya. CLA 220 menjadi contoh awal tren ini.























