Dua Nissan Skyline GT-R klasik mengalami kerusakan parah setelah ditabrak oleh telehandler – sebuah forklift tugas berat – di WeatherTech Raceway Laguna Seca awal bulan ini. Pemilik kendaraan kini telah mengajukan gugatan terhadap sirkuit tersebut, dengan alasan kelalaian.
Detail Insiden
Tabrakan terjadi saat kedua mobil R34 berwarna merah dan R32 GT-R ungu sedang parkir di jalur lurus utama dalam kondisi bendera merah. Rekaman dari kamera dasbor menunjukkan telehandler, membawa beban ban, gagal berhenti atau mengalihkan perhatian saat mendekati kendaraan yang diparkir. Dampaknya cukup kuat hingga memecahkan jendela, menghancurkan panel bodi, dan menimbulkan kerusakan struktural yang signifikan.
Pemiliknya, Artin Nazaryan (R34) dan Akihiro Fuchigami (R32), mengklaim mobil mereka kemungkinan besar tidak bisa diperbaiki secara ekonomis. Insiden tersebut menimbulkan pertanyaan tentang prosedur keselamatan lintasan, terutama visibilitas dan protokol operasional kendaraan pendukung selama acara di lintasan.
Tindakan Hukum dan Tuntutan
Gugatan tersebut menuduh bahwa operator telehandler bertindak dengan “kelalaian besar” dengan melanjutkan tanpa memastikan garis pandang yang jelas atau memverifikasi jalur bebas dari kendaraan yang diparkir. Selain kerusakan kendaraan, penggugat juga meminta kompensasi atas cedera fisik, tekanan emosional, dan kerugian non-ekonomi lainnya.
Sirkuit telah mengakui insiden tersebut tetapi belum mengeluarkan tanggapan resmi terhadap gugatan tersebut. Seorang perwakilan menegaskan bahwa fasilitas tersebut “mengerjakan proses dengan tekun dan tepat waktu.”
Konteks yang Lebih Luas
Insiden ini menyoroti risiko yang melekat dalam lingkungan motorsport, di mana personel lintasan mengoperasikan alat berat bersama kendaraan berperforma tinggi. Meskipun kecelakaan sering terjadi, tingkat keparahan tabrakan ini menimbulkan kekhawatiran mengenai apakah tindakan keselamatan yang memadai telah diterapkan untuk mencegah kejadian serupa.
Insiden ini menggarisbawahi pentingnya protokol komunikasi yang jelas, penerapan batas kecepatan untuk kendaraan pendukung, dan persyaratan visibilitas yang kuat di trek balap untuk melindungi peserta dan kendaraan mereka.
Hasil dari tuntutan hukum ini dapat menjadi preseden pertanggungjawaban dalam insiden serupa di masa depan.






















