Narasi bahwa kaum milenial membunuh segalanya, mulai dari pernikahan hingga model toko serba ada tidak terasa seperti pengamatan sosiologis dan lebih seperti sebuah kiasan yang membosankan. Korban terbaru dari fitnah generasi ini adalah mobil itu sendiri. Asumsinya adalah anak muda yang lahir antara tahun 1981 dan 1996 tidak peduli dengan mengemudi. Mereka dianggap terlalu sibuk melakukan urbanisasi, menggunakan Uber, atau menghindari kerumitan mendapatkan SIM pada usia enam belas tahun.
Cerita itu salah. Itu fiksi.
Data baru dari Hagerty, spesialis asuransi mobil klasik, mematahkan mitos bahwa generasi milenial membenci mobil. Faktanya, mereka mungkin adalah hal yang membuat hobi penggila tetap hidup.
Jonathan Klinger, wakil presiden humas Hagerty, mencatat bahwa meskipun penurunan izin pemuda adalah suatu hal yang nyata, hal ini tidak menggambarkan keseluruhan gairah yang ada.
“Kebijaksanaan konvensional menyatakan bahwa hobi mengoleksi mobil akan mati seiring dengan generasi baby boomer. Menurut data kami, hal tersebut tidak lagi benar.”
Pergeseran ini tidak terjadi dalam semalam, namun di penghujung tahun 2018, sesuatu yang signifikan terjadi. Untuk pertama kalinya, aktivitas pasar gabungan Gen X dan generasi milenial melebihi aktivitas pasar generasi baby boomer dan generasi tua. Nyala apinya tidak padam. Itu sedang diserahkan ke tangan yang baru.
Statistik di Balik Pergeseran
Untuk memahami mobil apa saja yang dikoleksi kaum milenial, Anda harus melihat melampaui stereotip orang berusia dua puluhan yang bangkrut dan kecanduan ponsel pintar. Data tersebut memberikan gambaran demografi yang sangat terlibat, meskipun berbeda dari pendahulunya.
Berikut angka-angka mengenai kolektor mobil milenial:
- Nilai Kendaraan Rata-Rata: $21.000. Angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata kendaraan kolektor di Amerika Utara ($30.000), yang menunjukkan fokus pada aksesibilitas dibandingkan aset unggulan.
- Biaya Asuransi: Rata-rata premi tahunan adalah $674, yang menunjukkan tingginya volume polis yang aktif dan diasuransikan.
- Pembagian Gender: 90% laki-laki, 10% perempuan. Klinger mengklarifikasi bahwa hal ini mencakup kasus di mana pasangan berbagi mobil namun laki-laki adalah pemegang polis utama, sehingga pemisahan gender yang sebenarnya kemungkinan besar lebih seimbang.
- Preferensi Merek: Mobil domestik secara umum memimpin, namun nuansanya penting. Generasi milenial empat kali lebih tertarik pada mobil Jepang dibandingkan generasi pra-boomer (lahir 1930–1945), yang lebih menyukai mobil merek Inggris. Ketertarikan terhadap mobil Jerman tetap konsisten di semua generasi.
- Gaya Tubuh: Generasi X dan milenial 35% lebih mungkin menunjukkan minat pada truk dan SUV dibandingkan generasi pra-boomer dan boomer.
Dari Ruang Pamer hingga Jalan Masuk
Kesukaan kolektor muda terhadap truk dan SUV bukan hanya soal kepraktisan. Ini mewakili perubahan mendasar dalam cara pandang kendaraan ini.
Generasi tua memandang mobil kolektor sebagai benda statis—Corvette, Mustang, atau mobil sport Eropa yang harus dipoles dan dipajang. Tujuannya sering kali adalah memenangkan trofi di pertunjukan. Generasi milenial memandang kendaraan ini sebagai alat untuk berinteraksi. Mereka lebih cenderung mengendarai mobil kolektornya secara rutin dan menghadiri acara mengemudi dibandingkan sekadar memarkirnya.
“Ide generasi tua tentang mobil kolektor adalah Corvette, Mustang, Camaro,” kata Klinger. “Generasi muda beberapa kali lebih mungkin mencari Ford Bronco generasi pertama… atau pikap Chevrolet dari tahun 60an dan 70an.”
Ada logika praktis di sini juga. Truk antik dan SUV lebih umum. Umumnya lebih terjangkau. Suku cadang lebih mudah ditemukan. Mereka lebih mudah untuk dikerjakan.
Hal ini sejalan dengan budaya “pembuat” yang lebih luas. Membeli kendaraan antik bukan hanya tentang kepemilikan; ini tentang niat untuk mengerjakannya. Mobil menjadi sebuah proyek, koneksi ke realitas mekanis di dunia digital.
Sisi Sosial Nostalgia
Anda mungkin berasumsi bahwa generasi yang dibesarkan di Instagram akan menganggap lambatnya pengumpulan mobil sebagai sesuatu yang membosankan. Namun, acara seperti Radwood, yang merayakan mobil-mobil yang kurang dihargai pada tahun 1980an dan 90an, berkembang pesat secara online.
Hobi menawarkan pelarian dari teknologi, namun tidak menolaknya. Kolektor muda menggunakan media sosial untuk mendokumentasikan bangunan mereka, berbagi tips, dan terhubung dengan komunitas di seluruh dunia.
Stereotip bahwa kaum milenial membunuh mobil hanyalah sebuah stereotip. Kenyataannya jauh lebih menarik. Mereka membeli lebih banyak mobil, lebih sering mengendarainya, dan berfokus pada kesenangan mekanis dalam kepemilikan dibandingkan prestise tampilan.
Pasar peminatnya tidak mati. Ini berkembang. Dan hal ini dipimpin oleh orang-orang yang dianggap tidak peduli oleh semua orang.
Apakah tren ini akan bertahan seiring bertambahnya usia para kolektor yang memasuki usia tiga puluhan dan empat puluhan masih harus dilihat. Namun untuk saat ini, data menunjukkan bahwa jalan tersebut masih jauh dari sepi.
Pergeseran Milenial: Waktu dan Keterjangkauan
Pertanyaannya bukan hanya jika generasi milenial mengoleksi, tapi mengapa pergeseran tersebut terjadi saat ini. Data tersebut menunjukkan konvergensi spesifik antara stabilitas keuangan dan peluang pasar. Generasi X saat ini berada pada tahun-tahun puncak penghasilannya, mendorong budaya kolektor dengan intensitas yang sama besarnya dengan generasi baby boomer pada dekade-dekade sebelumnya. Namun pendorong sebenarnya di sini adalah kelompok milenial yang beranggotakan 100 juta orang. Mereka sedang mencapai titik puncak pengumpulan yang serius, dan waktunya sangat selaras dengan tahapan kehidupan mereka.
Klinger mencatat bahwa tonggak sejarah tradisional telah bergeser. Milenial belakangan mendapat SIM, belakangan membeli mobil, menikah belakangan, dan membeli rumah belakangan. Penundaan ini menciptakan jendela unik. Daripada mengejar simbol status di usia 20-an, mereka malah memasuki pasar kolektor dengan pendapatan yang dapat dibelanjakan ketika mobil yang mereka inginkan sudah tersedia.
Titik Masuk Terjangkau untuk Peminat
Hambatan untuk masuk tidak pernah serendah ini bagi para penggila yang serius. Kami melihat lonjakan mobil kolektor yang diinginkan dengan harga di bawah $10.000. Bahkan lebih baik lagi, banyak opsi menarik yang berada di bawah $5.000. Keterjangkauan ini mengubah psikologi kepemilikan.
“Memiliki mobil antik atau mobil yang antusias bisa menjadi tanda kesuksesan, namun bukan pertanda berlebihan,” kata Klinger.
Perbedaan ini penting. Ini bukan tentang membeli garasi yang penuh dengan Ferrari untuk pertunjukan. Ini tentang aksesibilitas. Ini tentang memiliki sepotong sejarah otomotif tanpa melikuidasi tabungan Anda. Bagi generasi yang menghadapi kesulitan ekonomi, model “sukses tanpa kelebihan” ini sangat menarik. Hal ini memungkinkan mereka untuk berpartisipasi dalam hobi secara otentik, bukan secara performatif.
Mendefinisikan Istilah: Vintage vs. Klasik
Perdebatan mengenai terminologi terus berlanjut di dunia mobil kolektor. Ini bukan hanya semantik; hal ini memengaruhi cara mobil dinilai dan dikategorikan.
Vintage mengacu pada periode asal atau pembuatan tertentu. Dalam praktiknya, ini biasanya berarti mobil yang berusia minimal 25 tahun. Itu adalah penanda kronologis.
Klasik menyiratkan penilaian kualitatif. Artinya “kualitas pertama atau tertinggi”. Inilah mobil-mobil yang paling banyak dicari masyarakat. Pontiac GTO, misalnya, sering disebut sebagai klasik karena dampak budaya dan keinginannya, bukan hanya usianya.
Meskipun istilah-istilah tersebut sering digunakan secara bergantian dalam percakapan santai, perbedaan tersebut memberikan bobot bagi para kolektor. Mobil otot tahun 1960-an mungkin dianggap vintage berdasarkan usianya, namun hanya model tertentu yang mencapai status klasik karena kelangkaan, performa, dan signifikansi historisnya. Memahami perbedaan ini membantu pembeli mengidentifikasi mobil mana yang memiliki nilai dan mana yang sudah tua.





















